"Tiada Kata Tak Punya Waktu, Jika Di Rasa Mampu Prioritaskan Sesuatu Yang Di Rasa Penting"
~ Tanpa Nama ~

Friday, May 12, 2017

Ulasan : Benarkah Buku Catatan Amal Ditutup pada Malam Nisfu Syaban?


      pdipmpekalongan - Menjelang datangnya bulan ramadhan, beberapa macam broadcast mulai berseliweran di lintasan BBM ataupun unggahan gambar di media sosial yang menyebut tentang amaliyah tertentu terkait bulan ramadhan ataupun bulan-bulan sebelumnya.

Setelah beberapa waktu lalu broadcast tentang keutamaan puasa rajab kerap melintasi media sosial dan media komunikasi virtual, saat ini giliran broadcast dan kalimat tentang catatan amal yang ditutup pada malam nisfu syaban pula yang mulai ramai dibicarakan.

Pertanyaannya, benarkah catatan amal kita ditutup pada malam nisbu syaban?

Dari beberapa sumber menyebutkan, bahwa tidak ada satupun dalil shahih yang menyebutkan akan hal ini. Dan munculnya anggapan ini – menurut sebagian ulama - barangkali adalah akibat kesalahpahaman  ataupun penafsiran yang keliru terhadap hadits Rasulullah SAW berikut ini: dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya,“Wahai Rasulullah, saya belum pernah melihat anda berpuasa dalam satu bulan sebagaimana anda berpuasa di bulan Sya’ban?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).

Dalam hadits tersebut, Rasulullah sama sekali tidak menyebutkan tentang penutupan catatan amal, melainkan pelaporan amal, dan itupun tidak disebutkan pada tanggal berapa di bulan sya’ban pelaporan itu dilakukan.

Selain itu, dalam surat Al Hijr Allah berfirman yang artinya : “Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu Al-Yaqin.” (QS. Al-Hijr: 99)

Al-Yaqin ditafsirkan oleh para ulama sebagai kematian. Dengan kata lain, hanya kematianlah yang akan “menghentikan” seluruh amal perbuatan manusia. Dan manusia diperintahkan untuk terus beribadah hingga maut menjemputnya. Namun demikian, catatan amal yang bersangkutan belumlah tertutup, karena masih ada amal yang tetap mengalirkan pahala meski seseorang  sudah meninggal dunia, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sudah sangat populer, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendo’akannya."

Jadi, tidaklah benar bahwa buku catatan amal ditutup pada malam nisfu sya’ban, bahkan kita dianjurkan untuk beribadah secara istiqamah sampai ajal memisahkan nyawa dari raga, termasuk melakukan sedekah jariyah, mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih serta selalu mendoakan kita, sehingga ajal yang menjemput  tak akan menghentikan pahala dari terus mengalir kepada kita. Wallahu ‘alam Bishowab

Referensi: dari berbagai sumber
via : ummionline

0 comments:

Post a Comment